
SIAPS.CO – Pertemuan di Seoul menjadi langkah nyata diplomasi hijau Indonesia. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bertemu dengan Direktur Eksekutif Asia Forest Cooperation Organization, Park Chongho, untuk memperkuat kerja sama di sektor kehutanan berkelanjutan.
Fokus utama kolaborasi ini adalah pengembangan proyek karbon, rehabilitasi lahan, serta pemberdayaan masyarakat melalui perhutanan sosial. Indonesia dinilai memiliki potensi besar, mulai dari kawasan hutan adat hingga taman nasional, yang dapat dikembangkan menjadi proyek karbon bernilai ekonomi sekaligus menjaga ekosistem.
AFoCO juga membuka peluang pendanaan internasional melalui skema blended finance dan dukungan lembaga global seperti Green Climate Fund. Bahkan, kerja sama dengan sektor perbankan internasional turut memperkuat pengembangan proyek agroforestri karbon di kawasan Asia Pasifik.
Bagi Indonesia, kerja sama ini bukan sekadar proyek, tetapi strategi jangka panjang. Pemerintah mendorong agar hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat, khususnya melalui program perhutanan sosial.
Sebagai langkah konkret, Indonesia mengusulkan penguatan koordinasi dengan menempatkan perwakilan tetap di kantor pusat AFoCO. Selain itu, dukungan juga diarahkan untuk pengelolaan jutaan hektare hutan adat serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengakses pembiayaan dan teknologi.
Pertemuan ini menegaskan satu hal: masa depan hutan tak bisa dijaga sendiri. Kolaborasi lintas negara menjadi kunci, agar hutan tetap hidup—bukan hanya sebagai paru-paru dunia, tetapi juga sumber kesejahteraan bagi generasi kini dan mendatang.