
Indonesia memiliki hutan tropis terbesar nomor 3 (tiga) di dunia. Itu membuat Indonesia menjadi salah satu negara hutan terpenting di dunia, antara lain sebagai salah satu paru-paru dunia.
Kekayaan hutan tropis Indonesia luar biasa besar. Baik jenis-jenis kayu yang sangat berkualitas seperti jati Jawa, berbagai flora dan fauna, ribuan keragaman hayati, tumbuhan medis, berbagai plasma nutfah bahkan mineral yang bernilai tinggi.
Pada 1 Januari 2001 terjadi perubahan politik desentralisasi dan otonoml di Indonesia, termasuk Kementerian Kehutanan yang berpengaruh negatif, semakin mengancam kelestarian hutan.
Sebagai kesatuan sistem lingkungan selayaknya kehutanan harus tetap sentralisasi seperti TNI/Polri, Kementerian Agama, BI dan beberapa lainnya agar tidak terkotak-kotak manajemennya.
Contoh yang tetap melaksanakan sistem sentralisasi dan relatif utuh hutannya adalah Perum Perhutani. Satu komando kebijakan se-Indonesia.
Saat ini hutan Indonesia yang awalnya seluas sekitar 143 juta hektare, akibat berbagai sebab telah terjadi tanah kosong/gundul, sekitar 60 juta hektare, bahkan mungkin lebih luas, memuncak sejak booming pengusahaan kayu bulat tahun 1960-1980-an.
Itupun masih terus terjadi deforestasi/degradasi pengurangan hutan di lapangan. Baik karena illegal logging, kebakaran hutan, perladangan berpindah, alih-fungsi, maupun akibat UU/peraturan/kebijaksanaan pemerintah dan korupsi yang berjamaah.
Di luar hutan hujan tropis yang sangat luas tersebut Indonesia masih memiliki hutan ekosistem bawah laut, yang diinisiasi oleh Transtoto Handadhari, rimbawan UGM Yogyakarta dan kawan-kawan pada tahun 2023, yang disebut “Wana Bahari”, seluas sekitar 220 juta hektare yang kaya dengan hasil laut, ikan, segala biota laut, ganggang penghasil besar oksigen, penyerap emisi karbon.
Kekayaan ekosistem lautan yang sangat besar tersebut relatif belum pernah diungkap oleh pihak Kementerian Kehutanan.
Setelah era pengusahaan
hutan besar-besaran di beberapa dekade 1960-1980an di luar Jawa, hutan gundul yang sangat luas tejadi.
Hutan gundul tersebut seluas 60 juta hektare terutama berada di luar Jawa dimulai dari peladangan berpìndah sampai era exploitasi kayu HPH.
Di Jawa, terutama di kawasan hutan Perum Perhutani tahun 2005 terdapat hutan kosong sekitar 600 ribu hektare yang dengan Perhutani Hijau 2010 digenjot untuk bebas tanah kosong.
Upaya menyelamatkan tegakan hutan jati dengan gerakan anti pencurian kayu selama tahun 2006 berhasil menangkap lebih dari 800 orang pencuri dan cukong kayu jati di Jawa.
Penanaman kembali hutan kosong gundul di seluruh Indonesia tersebut seluas sekitar 60 juta hutan seharusnya diprioritaskan.
Pengabaian bertahun-tahun reboisasi telah menumpukkan luas hutan kosong yang sangat luas.
Program Penghijauan dan Reboisai 1975, dan usaha lainnya, nyaris tidak bisa membantu mengurangi hutan gundul yang tetap luas.
Luasnya hutan kosong di Indonesia yang perlu ditanami kembali sampai menjadi hutan lebat perlu dana yang sangat besar.
Dengan taksiran biaya Rp125 juta per hektare sampai jadi (YPHI, 2022), maka untuk reboisasi 60 juta3 hektare hutan gundul diperlukan biaya sekitar Rp9.000 Triliun, termasuk memperkirakan adanya 20 persen kegagalan,dengan waktu tanam sekitar 200 tahun lebih.
Itupun kalau dilakukan intensif terus menerus, tanpa kecurangan.
“Hutan yang bagus dan berfungsi akan menjaga tanah subur dari erosi tanah, bencana banjir, tata air, terjaganya ekosistem dan biodiversitas, perlindungan tanah longsor, kesediaan air bersih, penyediaan oksigen sehat, penyerapan karbon untuk mengurangi pemanasan global, perbaikan habitat hewan, penyediaan bahan baku industri dan rumah-tangga, penyediaan bahan obat-obatan, bahan makanan, menguatkan ketahanan pangan nasional”, jelas Dr. Transtoto Handadhari, rimbawan senior KAGAMA.
Menyambung begitu besarnya biaya tanam Transtoto mengatakan itulah nilai kehancuran kealpaan pengelolaan ekositem hutan disamping derita kerugiannya.
“Selain itu fokus kegiatan yang perlu perhatian adalah kebakaran hutan terutama di musim kering di daerah gambut yang bisa menyimpan bara api sampai lebih dari tiga bulan 4seperti di Sumatera dan Kalimantan. Salah satu tehnologi untuk memotong rambatan api adalah ‘Lahan Bakar Komunal’ di daerah masyarakat petani gambut.
Juga diberikan perhatian besar untuk penyerapan karbon memerangi isu pemanasan global/perubahan iklim yang sedang dimusuhi dunia dan banyak sekali lainnya”, tutup Transtoto, yang Dirut Perum Perhutani 2005-2008, menutup perbincangannya dengan media.AI